WhatsApp
textura-de-tela-de-cerca


 

 

 

Tenun songket adalah karya tekstil tradisional dari Indonesia yang dibuat dengan teknik menyungkit benang hias emas maupun perak menjadi motif khas yang indah dan mewah. Tenun songket menjadi identitas nasional, bernilai tinggi secara budaya dan sejarah, serta menjadi warisan budaya Indonesia. Saat ini ini tenun songket tetap dilestarikan dan berkembang dengan berbagai inovasi desain yang unik dan menarik. Keunikan dari tenun songket terletak pada motif yang dihasilkan tampak menonjol pada permukaan kain dan proses pembuatan yang manual dan perlu kehati-hatian tinggi dalam proses pembuatannya. 

 

Sejarah Perkembangan Tenun Songket di Indonesia

Tenun songket berasal dari wilayah Palembang dan Minangkabau yang menyebar ke berbagai wilayah di luar dan dalam Indonesia. Penyebaran tenun songket saat itu dikuasai pada zaman kejayaan kerajaan Sriwijaya ke berbagai daerah seperti Kepulauan Riau, Kalimantan, Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, hingga ke Kelantan dan Terengganu di abad ke-16. 

Untuk menghasilkan kain tenun yang memiliki kualitas yang tinggi, saat itu masyarakat lokal mengekspor bahan sutra dari Tiongkok dan sejarah tenun tidak lepas dari jalur perdagangan maupun interaksi di kawasan Asia Tenggara. Masuknya benang emas dan perak ke Indonesia diperkirakan sejak abad ke-7 hingga ke-13 melalui hubungan dagang dengan India, Tiongkok, dan Timur Tengah.

Di masa kejayaan kerajaan Sriwijaya, songket menjadi simbol kemakmuran dan kekuasaan. Kain ini hanya dapat digunakan kalangan bangsawan, keluarga kerajaan, ataupun tokoh adat. Hingga saat ini tenun songket dapat digunakan oleh seluruh masyarakat, tradisi tetap terjaga, dan berkembang di berbagai wilayah Indonesia yang menyesuaikan dengan lingkungan atau budaya lokal setempat. 

Tahapan-Tahapan Tenun Songket

Dalam pembuatan tenun songket memerlukan bahan dan peralatan khusus, antara lain Benang dasar (katun atau sutra), Benang emas atau perak, Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), Alat sungkit (untuk menyisipkan benang hias sesuai motif). Bahan dan alat perlu diperhatikan kualitas nya, sehingga tenun songket yang dihasilkan dapat bernilai tinggi. Berikut tahapan dalam proses pembuatan tenun songket:

Tahapan Tenun Songket

  1.  

Mewarnai Benang

Benang yang biasa digunakan seperti sutra dan benang kapas, proses pewarnaan dilakukan berulang kali agar tidak luntur. Benang dimasukan dalam kawah berisi air mendidih, kemudian bilas, dan dijemur hingga benang kering. 

  1.  

Menerai Benang

Benang yang sudah di kering diceraikan pada tungkulan besar menggunakan alat rahat dan guwing. Setelah itu, di bagikan ke dalam pelting buluh yang dinamakan benang pakan.

  1.  

Menganing

Proses menyusun benang lungsi (benang memanjang) yang disesuaikan dengan panjang dan lebar kain yang akan dibuat. Benang diatur dengan teliti, sejajar, dan rapi karena penting untuk menentukan ukuran kain yang dihasilkan. 

4.

Menggulung

Benang digulung pada alat khusus/palet, yang memudahkan pengaturan benang saat dipasang pada alat tenun. 

5.

Menyapuk

Proses memasukan benang lungsi ke dalam alat pembagi benang (sisir). Untuk mengatur jarak dan posisi, sehingga benang tidak kusut dan saling bertumpuk. 

6.

Menggarat

Mengikat dan mengatur benang lungsi sesuai dengan pola yang diinginkan. Caranya dengan menggunakan loseng (benang utama) silih berganti. 

7.

Menyongket

Tahapan khas dengan menyisipkan benang emas atau perak ke dalam benang dasar menggunakan teknik sungkit. Disesuaikan dengan motif yang telah dirancang. 

8.

Menekat

Proses penguncian benang agar motif yang dibentuk tidak mudah digeser atau lepas. 

9.

Menenun

Dengan menyatukan seluruh benang menjadi selembar kain songket. Perlu menggerakan alat tenun berulang, sehingga membentuk anyaman dari benang pakan dan lungsi. Proses ini dilakukan dengan alat yang biasa disebut kek atau “kei”. 

 

Nilai Filosofis Tenun Songket

Motif dalam kain songket menjadi salah satu kekuatan utama yang memiliki makna filosofis yang terkandung. Motif-motif tersebut merepresentasikan nilai kehidupan, norma sosial, dan pandangan hidup masyarakat. Berikut beberapa nilai filosofis:

- Kemakmuran dan kejayaan, dari penggunaan benang emas 

- Keseimbangan dan keharmonisan hidup, melalui motif simetris pada songket

- Hubungan manusia dengan alam, dari motif flora dan fauna yang diaplikasikan

- Kebijaksanaan dan pertumbuhan, yang diwujudkan melalui motif geometris

Berikut tadi merupakan sejarah, tahapan, dan nilai filosofis tenun songket. Tenun songket bukanlah sekadar kain tradisional, melainkan warisan budaya yang merepresentasikan kekayaan, keterampilan, dan nilai Indonesia. Bagi Anda yang memiliki keinginan untuk mempelajari tenun songket, kami dari BBSPJIKB menyediakan layanan pelatihan untuk Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi kami:

Unit Pelayanan Publik Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian

Jl. Kusumanegara No. 7 Kota Yogyakarta 55166 

D.I. Yogyakarta

0274-546111 (ext. 109)

https://wa.me/6285232605316 (Ridwan)

 

Artikel diolah dari berbagai sumber

 

tags: #tenunsongket #songket #warisanbudaya #kainsongket #sejarahsongket #tahapantenunsongket #budayaindonesia #bennagsongket  #BBSPJIKB #layananBBSPJIKB 


BALAI BESAR KERAJINAN DAN BATIK

Jalan Kusumanegara No. 7, Kota Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta 55166
Telp. 0274-546111 Ext.109 | Fax. 0274-543582
E-mail:bbkb@kemenperin.go.id | Instagram : @bbspjikb_kemenperin | Whatsapp : 6282223799288

Bagikan di Media Sosial Anda