Pengolahan air limbah industri kerajinan dan batik akan segera disempurnakan. Jika selama ini pembuangan air limbah dilakukan secara perorangan dan dibuang di sembarang tempat, direncakan pembuangan air limbah dimaksud akan dikelola secara per kelompok.

Hal itu dikatakan Kepala Balai Besar Kerajinan & Batik (BBKB), Yogyakarta, Titik Purwati Widowati kepada wartawan di Jakarta kemarin. Selain itu, Titik juga berencana mendorong penggunaan zat pewarna alam dan tidak lagi menggunakan zat pewarna yang menggunakan bahan kimia.

‘’Semua itu kami harapkan akan dapat menghemat biaya produksi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,’’ katanya.

Diakui oleh Titik, selama ini, pembuangan air limbah industri batik dilakukan tidak terkoordinir, melainkan dilakukan secara orang per orang, sehingga air limbah tersebut dibuang ke sembarang tempat sehingga jelas mencemari lingkungan.

Karena itu katanya, pihaknya sedang mengkaji suatu pola pembuangan air limbah yang akan dilakukan secara per kelompok. Caranya, air limbah itu akan dikumpulkan di satu tempat dan fdalam satu wadah untukkemudian ke tempat yang sudah ditentukan.

Diakui memang oleh Titik, cara pengolahan air limbah yang akan ditawarkan, jelas akan membutuhkan tenaga dan biaya. Namun, dampak positifnya terhadap lingkungan akan dirasakan oleh semua pihak. ‘’Lingkungan akan lestari, air sungai juga akan tetap sehat dan tidak lagi tercemar,’’ katanya.

Ditanya tentang dipilihnya zat pewarna alam dibanding pewarna berbahan kimia, untuk industri batik, dikatakan  bahwa zat pewarna alam tersebut, selain lebih sehat, warnanya juga lebih lembut.

‘’Warna batik yang dihasilkan zat pewarna alami, tampaknya memang tidak se-ngejereng warna yang dihasilkan zat berbahan kimia. Namun kami yakin, konsumen akan lebih memilih zat pewarna alami karena lebih sehat,’’ katanya.

(sumber tubasmedia.com)

Share

  • Share on Facebook
  • Share on Twitter