Rangkaian perjalanan panjang berawal dari kunjungan Bupati Banyumas Bapak Ir Achmad Husein dan jajaran Pemkab Banyumas ke Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta. Dalam dua kali berkunjung ke BBKB, Bupati Banyumas mengajak seluruh  pimpinan dari berbagai SKPD. Kunjungan balasan  ke Banyumas  dipimpin langsung Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik Ibu Zulmalizar beserta jajaran.

Semangat untuk Pengembangan IKM, Tenun dan Batik di Banyumas semakin konkrit dan nyata serta membuahkan hasil ketika ditanda tanganinya Nota Kesepahaman (MOU) antara Pemerintah Kabupaten Banyumas dengan Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Kementerian Perindustrian RI bertempat di Kabupaten Banyumas pada hari Senin, 21 April 2014 di Graha Satria Purwokerto.

Kepala Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Bapak Arryanto Sagala dalam kata sambutan yang dibacakan Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta Ibu Zulmalizar memberikan apresiasi dan menyambut baik atas progress Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam mewujudkan kerjasama ini untuk mengembangkan industri kerajinan dan batik khususnya di Kabupaten Banyumas, sehingga nantinya dapat meningkatkan lapangan pekerjaan, perekonomian masyarakat dan kontribusi industri kerajinan dan batik secara umum pada PDB Kabupaten Banyumas.

Disamping itu Nota Kesepahaman atau MoU ini adalah sebagai payung hukum kerjasama program jangka panjang antara BPKIMI khususnya Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas. BBKB telah melakukan berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan yang terkait dengan bahan baku, proses dan desain produk kerajinan dan batik. Jadi sangatlah tepat apabila dalam pelaksanaan teknis dari kerjasama pengembangan industri kerajinan dan batik di Kabupaten Banyumas ini bekerjasama dengan BBKB. Kemampuan dan pengalaman BBKB dalam kegiatan litbang, perekayasaan, pengembangan desain, pelatihan teknis, konsultansi, serta pengujian dan sertifikasi produk kerajinan dan batik merupakan hal penting yang harus disinergikan dengan sumberdaya yang dimiliki oleh Pemkab Banyumas dalam pengembangan IKM Kerajinan dan Batik.

 Dalam kesempatan yang sama Bupati Banyumas Bapak Achmad Husein mengakui bahwa untuk pioner batik di Indonesia saat ini masih terpusat di Yogyakarta, Solo dan Pekalongan. Untuk itulah para pengrajin wajib terus dipacu untuk mengembangkan diri dan belajar pada daerah lain yang sudah maju. ”Kita harus mengakui bahwa batik banyumas masih tertinggal dari daerah lain tersebut diatas, untuk itu kita harus mawas diri dan terus belajar agar batik banyumas bisa go nasional minimal go Banyumas” ajak Bupati. Setelah diakui dalam Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia oleh organisasi dunia Unesco, geliat pemakaian batik terasa, termasuk di banyumas. Batik pun tidak pernah dilupakan dalam setiap kesempatan. Namun, di tataran pengusaha belum terjadi perkembangan yang signifikan, terutama menyangkut penambahan jumlah usaha. “Mungkin karena baru pengakuan  belum menjadi budaya, jadi perlu waktu," Karena itulah berbagai upaya dilakukan, termasuk mewajibkan para pegawai setiap hari Rabu s.d. Sabtu menggunakan batik, tetapi batik yang dipakai belum semua menggunakan batik banyumas.

 Dalam kesempatan lain Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Banyumas Bapak Joko Wikanto mengatakan bahwa sebagai salah satu tindak lanjut dari MOU tersebut, antara lain Pelatihan Teknologi Produksi Batik Kombinasi Tritik dan Jumputan. Pelatihan akan meningkatkan sumber daya manusia (SDM) bagi IKM Batik, Tekstil dan Produk Tekstil. Selain itu juga akan menambah pengetahuan tentang diversifikasi produk batik banyumasan dan mampu meningkatkan daya saing dan nilai tambah bagi perajin

Share

  • Share on Facebook
  • Share on Twitter