Apa yang terbersit dalam pikiran anda ketika membaca judul tulisan ini?  Apakah anda membayangkan deretan kain batik yang dipajang dengan rak-rak buku sebagai pengawalnya?  Kalau memang demikian, berarti imajinasi anda kurang kekinian.  Sekarang,  dengan kemajuan teknologi, koleksi kain batik  bisa dinikmati dalam sebuah buku.

H Santosa Doellah telah melakukannya pada tahun 2002 dengan menerbitkan buku yang berjudul Batik Pengaruh Zaman dan Lingkungannya.   Dalam buku ini koleksi batik beliau ditampilkan dalam kelompok-kelompok sesuai dengan perkembangan batik yaitu Batik Kraton, Batik Pengaruh Kraton, Batik Saudagaran dan Batik Petani, Batik Pengaruh India, Batik Belanda, Batik Cina, Batik Djawa Hokokai, Batik Indonesia dan Batik Danar Hadi. 

 Ani Bambang Yudhoyono, berbagi kenangan melalui lembaran-lembaran batik yang ada di dalam hidup beliau dalam buku Batikku Pengadian Cinta Tak Berkata yang terbit tahun 2010.   Bagi beliau nilai sehelai batik bukanlah nilai kebendaannya, melainkan nilai sejarah kehidupan pribadi beliau yang tersimpan di dalamnya. 

Ada lembaran batik dengan pola Udan Liris. Ini merupakan pemberian dari ibunda tercinta dan usianya sudah puluhan tahun.  Ada juga lembaran batik dengan pola Semenan Sido Asih yang merupakan kain pusaka warisan Eyang Kakung, ayah dari ayah Ani Bambang Yudhoyono.  Kain ini sudah berusia lebih dari 80 tahun.  Demikian juga  lembaran batik Garutan Parang Cantel. Diperkirakan koleksi ini diproduksi pada tahun 1960.

Selain koleksi-koleksi tersebut, keindahan lembaran-lembaran batik simpanan pribadi beliau yang pernah dipamerkan di Paviliun Indonesia pada World Expo 2010 yang berlangsung di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok  dari 1 Mei hingga 31 Oktober 2010 juga ditampilkan dalam buku ini.  

 Lain halnya dengan Tumbu Ramelan. Pada tahun 2010 Tumbu Ramelan membagikan keindahan koleksi batik yang beliau miliki dalam buku  The 20 th Century Batik Masterpieces.  Buku ini menampilkan koleksi batik Indonesia Tumbu Astiani Ramlean. Buku ini disusun dalam beberapa bab berdasarkan wilayah - Jawa, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera. Setiap bab dimulai dengan ikhtisar karakteristik batik dari wilayah itu dan diikuti dengan rincian potongan batik tertentu.

Buku The Dancing Peacock : Colours and Motifs of Priangan Batik yang terbit tahun 2010 menampilkan koleksi beberapa orang terkait tema buku tersebut yaitu batik Priangan.  Menampilkan koleksi Agus S Natawidjaja, Ana Trislia, Hj Ilah Niman, Heti Komalasari Sunaryo, Hj Mien Rohendi, H Enung NHK, Karlinah Umar Wirahadikusumah, Mahdiati Rahmat Apandi, Melani Wangsadinata, Notty J. Mahdi, Otong Kartinah, Priyanto, Rajip (Batik Ralisha Putra Garut), Rini Yudha Ahadiat, Sendy Yusuf, Siti Maimunah, Supriyadi Harmaen (Dimas Batik), Wieke Dwiharti, Widia Chandra dalam bahasan Batik Ciamis, Batik Garut dan Batik Tasikmalaya.

Koleksi Hartono Sumarsono.  Hartono Sumarsono jatuh cinta pada batik ketika membantu paman berjualan di toko batiknya.  Waktu itu beliau masih duduk di bangku SMA dan berumur 16 tahun.  Ketika umur 28 tahun, beliau mulai mengoleksi batik-batik yang dibuat di zaman keemasannya, yaitu menjelang awal abad XX sampai pertengahan abad yang lalu. Karena batik mudah rapuh, maka beliau merasa ada baiknya mengabadikan dalam bentuk buku. 

 

 Buku Hartono yang pertama berjudul Batik Pesisir Pusaka Indonesia yang terbit pada tahun 2011.  Dalam buku ini tersaji sekitar 200 batik pesisir terbaik koleksi Hartono Sumarsono yang dibuat tahun 1870-1960-an- masa keemasan batik tulis.  Di antaranya kita dapat menikmati batik bermotif wayang yang menceritakan kisah Arjuna Wiwaha, diproduksi oleh C.M. Meyer tahun 1870, seprai Lasem yang dibuat awal abad lalu, batik Pekalongan buatan Oey Soe Tjoen Kwee Nettie yang terkenal halus pengerjaannya, batik Belanda buatan Lien Metzelaar dan Eliza van Zuylen, batik Djawa Hokokai, di samping batik Kudus, Banyumas, Cirebon, Madura, Garut, dsb.  Juga kain gendongan yang motifnya cukup variatif. 

 Masih dengan tema batik pesisir, pada tahun 2013, Hartono Sumarsono menerbitkan buku Benang Raja Menyimpul Keelokan Batik Pesisir.  Kalau dalam buku Batik Pesisir Pusaka Indonesia, kita bisa menikmati keindahan batik Pesisir koleksi Hartono Sumarsono, maka pada buku Benang Raja Menyimpul Keelokan Batik Pesisir, Hartono Sumarsono mengajak kita menyimak detail-detail pada kepala, badan, papan serta pinggir kain yang sangat memesona.

 Pada tahun 2016, diterbitkan buku Batik Garutan.  Garutan adalah istilah untuk menyebut kain batik yang dihasilkan di daerah Garut di Jawa Barat, maupun yang dibuat di daerah lain dengan ciri-ciri yang khas garutan.  Cirinya yang paling khas adalah warna latar yang gumading, yaitu kuning gading, walaupun ada sebagian kecil garutan yang latarnya berwarna lain.  Sering kali latar garutan dibiarkan polos.  Kalaupun ada latar yang diberi hiasan, maka motifnya tidak njlimet.  Banyak garutan yang memiliki perpaduan warna-warna lembut, sehingga memberi kesan manis.  Boleh dikatakan keindahan garutan justru terletak pada kesederhanannya.

 Satu tahun kemudian, tepatnya tahun 2017, Hartono Sumarsono menerbitkan  buku  Batik Betawi. Tahun-tahun terakhir ini, bila menyebut batik Betawi, orang langsung teringat pada batik berwarna sangat cerah dengan kepala kain bermotif pasung/pucuk rebung.  Badan kain sering dihiasi motif yang mencirikan Jakarta, umpamanya Monumen Nasional, ondel-ondel, atau flora dan fauna yang dimiliki Jakarta seperti burung ulung-ulung

Pada tahun 2012, berdasarkan kumpulan batik Jawa Barat yang dimilikinya, Jultin Kartasasmita bekerjasama dengan berbagai pihak menulis buku dengan judul Dunia Batik Seorang Jultin.  Sebuah buku yang memuat batik Jawa Barat dan beberapa potong batik yang diproduksi di Jawa Tengah dengan cita rasa Sunda dan beberapa karya Iwan Tirta yang dibuat di Jakarta tetapi khusus dirancang untuk para kliennya yang menghendaki langgam batik Sunda. Kain-kain yang terpajang di halaman-halaman buku ini terdiri dari berbagai kain yang sudah dikenakan Jultin untuk tampil dengan kebaya Sunda, kain yang disuka walaupun mungkin tidak pernah dikenakan tetapi ragam hiasnya mewakili semangat orang Sunda.

 Dalam buku Batik Traditional Textiles of Indonesia: From The Rudolf Smend & Donald yang terbit tahun 2016, dimuat koleksi Rudolf Smend dan Donald Harper. Sebagian besar berasal dari periode 1880 hingga 1930 ketika seni batik mencapai puncaknya. Tak satu pun dari batik dalam buku ini telah diterbitkan sebelumnya. Batik-batik tersebut mewakili sebuah penampang yang sangat indah mengenai  produksi batik Jawa — daerah penghasil batik yang paling penting di dunia. Kain-kain tersebut dilengkapi dengan foto-foto vintage dari kwartal pertama abad ke-20 yang mendemonstrasikan bagaimana batik dipakai di istana dan di rumah.

Kecintaan dan ketekunan barangkali adalah dua kata kunci yang mewakili koleksi pribadi seorang Kartini Muljadi yang direkam dengan indah di dalam buku yang diberi judul Batik Indonesia, Sepilihan Koleksi Batik Kartini Muljadi. Rasa cintanya yang luar biasa pada batik Indonesia yang sarat makna dan falsafah terungkap begitu jelas dalam setiap helai batik koleksinya yang dirawat dengan penuh rasa cinta dan tanggung jawab. Buku yang terbit tahun 2017 ini berisi batik koleksi Kartini Muljadi meliputi batik Pesisiran, Surakarta, dan Iwan Tirta.      

*Staf Seksi Informasi (Perpustakaan) BBKB

Share

  • Share on Facebook
  • Share on Twitter